Mengabdi dan Belajar
Mengabdi dan Belajar
Mengabdi dan Belajar! Andai saja ada satu kata kerja yang bisa
mewakili kedua makna tersebut, saya akan lebih suka memakainya.
Karena sebenarnya saya tidak ingin kedua kata kerja tersebut dilihat
secara terpisah. Juga saya tidak ingin makna kata kerja yang lebih
dahulu diucapkan sebagai makna kata kerja yang seolah sebagai yang
utama.
Kedua kata kerja tersebut, saya rangkai menjadi satu kesatuan yang
saya maksudkan sebagai makna bahwa kita hidup di dunia ini
seharusnyalah semuanya diniatkan sebagai bentuk pengabdian.
Pengabdian kepada sesama, pengabdian kepada keluarga, pengabdian
kepada kepemimpinan kita atas diri kita sendiri, pengabdian kepada
kehidupan yang kita `lewati', pengabdian kepada semua sumberdaya yang
telah termanfaatkan oleh kita baik sebagai diri sendiri maupun secara
kolektif kita sebagai umat manusia, pengabdian untuk alam semesta,
yang tentunya semua itu berujung kepada pengabdian untuk Sang Khalik
Pencipta Jagad Raya.
Saya yakin, bila kita mau jujur, tidak ada satu pun manusia di dunia
ini, dalam kita mengabdikan diri kepada kehidupan, secara yakin
menyatakan bahwa bentuk pengabdian yang mereka lakukan di dunia ini
adalah bentuk pangabdian yang benar-benar benar. Itulah mengapa kata
mengabdi ini dalam memaknainya saya `salut' dengan kata belajar.
Ketika kita tidak yakin bahwa bentuk pengabdian yang kita lakukan,
memang itulah yang seharusnya dilakukan, konsekuensi logisnya adalah
upaya kita dalam membuka cakrawala pikiran kita, membuka setiap
pemikiran dan pandangan, untuk selalu belajar! Belajar untuk selalu
bertanya apa, bagaimana dan mengapa yang harus kita lakukan dalam
rangka pengabdian tersebut.
Belajar itu sendiri, akan selalu saya niatkan sebagai salah satu
bentuk pengabdian yang saya lakukan. Itulah kenapa, seperti yang saya
kemukakan di atas, andai saja ada kata ganti yang bisa `membawa'
kedua makna kata kerja tersebut secara bersamaan. Karena kedua makna
tersebut memang saya maksudkan harus dilihat dan dimaknai secara
bersamaan sebagai satu kata kerja.
Ya!..."mengabdi dan belajar", adalah sebuah bentuk evolusi yang saat
ini saya yakini sebagai misi saya menjalani hidup di dunia ini.
Dalam sebuah pernyataannya, Peter Senge pernah mennyampaikan
pemikirannya bahwa `Tujuan dari penyataan sebuah Misi bukanlah pada
apa isinya, tapi pada bagaimana pernyataan misi tersebut dapat selalu
menggugah anda!'. Saya suka pada pernyataan tersebut. Karena memang
pada keyataannya, misi saya yang saya nyatakan di atas, pada setiap
kesempatan, pada saat-saat dimana saya membutuhkan sebuah semangat,
pada momen dimana saya harus mengambil keputusan, ingatan akan
pernyataan misi tersebut dapat selalu memberikan inspirasi dan
keteguhan hati terhadap apa yang sebaiknya saya lakukan.
Dan saya melihat, sepertinya ungkapan Mission Statement dari beberapa
orang-orang besar yang saya tahu tidak berujud sebuah kalimat klise
sehingga tersikapi secara biasa, tapi justru berupa ungkapan-ungkapan
pendek, yang walaupun secara tersurat mungkin susah kata tersebut
dilihat sebagai sebuah pernyataan misi. Tapi saya yakin secara
tersirat bagi beliau-beliau, kata tersebut selalu dapat mudah
diingat, dapat setiap saat memberi semangat dan inspirasi, dan selalu
menggugah!
Anda tentu mengenal John F. Kennedy, mantan presiden Amerika yang
berjuang meletakkan pondasi perdamaian ditengah kecamuk perang dimana-
mana. Sungguh tragis memang ditengah perjuangannya, lawan-lawan
politiknya begitu sangat ketakutannya sehingga harus memutuskan untuk
membunuhnya. Tidak banyak orang yang tahu misi pribadi sang mantan
presiden ini, sehingga setiap langkah, perbuatan dan keputusannya
bahkan selalu memberikan inspirasi setiap orang bahkan sampai
sekarang bila kita coba menyimak biografinya. Orang-orang dekatnya
waktu itu, hanya selalu mengingat sebuah ungkapan Kennedy, yang
kemudian dia minta untuk dipahat dan selalu terpampang di meja
kerjanya, ungkapan yang secara tersurat selalu menginspirasi dan
menjadi dasar pemikiran setiap keputusannya.
"Oh God, Thy sea is so Great and may boat is so small・quot;, adalah
ungkapan tersebut. Mungkin anda ragu bahwa ungkapan tersebut adalah
sebuah misi pribadi, tapi saya merasa bahwa dibalik kata-kata verbal
tersebut sebenarnya tersurat sebuah pernyataan misi mendiang Kennedy.
Sebuah pernyataan yang menyuratkan akan sebuah kerendah hatian sang
Presiden sebagai manusia di hadapan Tuhannya. Kerendah-hatian ini
yang menurut saya menginspirasikan kepadanya bahwa tidak ada alasan
bagi semua umat manusia untuk saling `berebut' terhadap apa yang ada
di dunia ini. Kerendah-hatian yang menyemangati dia mengkampanyekan
sebuah misi perdamaian dunia.
Lain lagi dengan Muhammad Yunus, direktur sekaligus pendiri Grameen
Bank Bangladesh. Dua puluh lima tahun lalu, dia adalah seorang
lulusan doktor ekonomi terbaik di Amerika Serikat. Disegani kolega-
koleganya di Amerika, kemudian kembali ke tanah airnya Bangladesh
mengikuti jejak teman-temannya sesama ekonom alumnus Universitas di
Amerika, mengajar di universitas-universitas di Bangladesh, menulis
buku dan artikel, memberikan konsultasi, konsep dan paham-paham
ekonomi kepada pemerintahnya untuk dapat mengentaskan kemiskinan di
negaranya.
Sadar akan apa yang dilakukannya tak kunjung juga memperbaiki taraf
hidup rakyat Bangladesh, dia pun memutuskan untuk meninggalkan
karirnya, `turun' ke desa paling miskin di Bangladesh, menyambangi
setiap rumah ke rumah, menawarkan pinjaman modal kepada setiap
penduduk miskin disitu. Pinjaman modal yang paling tidak dapat
menyambung hidup sehari-hari penduduk di situ!
Saat ini, apa yang dilakukannya telah berujud sebuah Bank, beroperasi
di lebih dari 46.000 desa di Bangladesh, dengan lebih dari 1200
kantor cabang. Memberikan pinjaman senilai total lebih dari 4,5
milyar dolar U.S. Dengan masing-masing pinjaman `hanya' senilai 12
sampai dengan 15 dolar U.S. Bahkan memberikan pinjaman kepada para
pengemis, untuk membantu mereka berhenti mengemis dan memulai
kehidupan baru sebagai pedagang.
Kira-kira apa misi pribadinya? Mungkin tidak seorang pun yang secara
gamblang tahu persis apa yang selalu memberikannya semangat sehingga
melakukan itu semua. Hanya terdapat sepenggal kalimat yang selalu
terucap dan diulang-ulang di setiap wawancara dengannya : "smell
it,..touch it・ see if you can do something about it..." Dan saya
yakin kata itu adalah ungkapan verbal akan misinya. Ketika teman-
temannya dalam berjuang mengentaskan kemiskinan negaranya, lebih
memilih tetap `diatas' dengan segala wacana akan konsep ekonomi dan
teori pengentasan kemiskinan, Muhammad Yunus memilih
untuk 'turun'...smell it, touch it, see if he can do something about
it...!
Dr Hunter Doherty Adams, Beliau adalah seorang dokter pendiri
Institute of Gesundheits di West Virginia. Seorang dokter yang
mencoba merubah cara pandang dokter di tahun tujuh-puluhan. Dimana
waktu itu biasanya dokter dididik di sekolah kedokteran kemudian
lulus dan merawat pasien dengan paradigma untuk `treat a disease'
sehingga seolah secara dingin tidak memperdulikan sisi humanitas sang
pasien. Beliau menawarkan sebuah paradigma untuk `treat a person'.
Ungkapannya yang terkenal waktu itu di kalangan dokter adalah : "A
doctor mission should be not just to cure the disease and to prevent
death, but also to improve the quality of life・.you treat a disease,
you win・you loose,・you treat a person, I guarantee you win no
matter what the outcome・quot;
Ungkapannya itu, menurut saya adalah sebuah cerminan pernyataan misi
pribadinya sebagai manusia yang kebetulan berprofesi sebagai dokter
yang selalu memperlakukan pasiennya sebagai `sahabat' untuk
membantunya menyembuhkan penyakit sang `sahabat' selain dengan cara
medis juga dengan selalu bersemangat memberikan motivasi untuk selalu
melihat dan menghargai kehidupan yang telah `memberikan kesempatan
untuk terus menjalani hidup', bukan yang telah `memberikan penyakit'.
Kita sebagai manusia, sebagai diri pribadi, sebagai bagian dari
keluarga di sekitar kita, tidak perlu menunggu menjadi orang
terkenal 穆eperti contoh yang saya kemukakan di atas- untuk
mulai `merumuskan'apa yang menjadi misi pribadi masing-masing kita.
Secara logika pun sebenarnya, para orang terkenal tersebut bisa
terkenal, karena sebelum mereka terkenal sudah secara kental selalu
mempertanyakan dan merumuskan misi pribadi mereka, sehingga selalu
menggugah semangat dan inspirasi mereka.
Dan menurut saya, orang yang besar adalah orang yang setiap saat bisa
mengingatkan dirinya akan misinya hidup di dunia ini. Orang besar
tidak harus kemudian terkenal. Bagi saya, ayah saya yang secara
konsisten mengingatkan dirinya akan misinya adalah orang besar. Bagi
saya, pedagang roti keliling yang setiap hari secara jujur dan loyal
selalu melayani pelanggannya, selalu bangga akan keluarganya, adalah
juga seorang yang walaupun mungkin misinya tidak terungkap secara
verbal, pastilah memiliki pandangan jernih akan misi hidupnya di
dunia ini, adalah juga orang besar. Bagi saya, pengatur lalu-lintas
yang hampir setiap pagi membantu menyeberangkan mobil saya di sebuah
perempatan tanpa traffic-light adalah juga orang besar. Sering saya
tidak sempat memberinya uang jasa, dia yang sepertinya hafal wajah
saya, tetap selalu tersenyum lebar dan menyapa saya setiap saya
melewatinya. Saya pikir susah hal itu dilakukan secara konsisten oleh
orang yang tidak memiliki pemandangan jelas akan misi pribadinya.
Orang yang dapat melihat kita sebagai orang besar secara obyektif,
saya pikir justru orang-orang yang ada di sekitar kita. Pasangan
hidup kita, anak-anak kita, orang tua kita, saudara-saudara kita,
pembantu rumah tangga di tempat tinggal kita, tetangga-tetangga kita,
teman kerja kita, orang-orang yang setiap hari kita jumpai. Justru
merekalah yang secara obyektif dapat menilai apakah cukup jelas
rumusan kita akan misi pribadi kita di dunia ini. Lalu, apa lagi yang
kita tunggu untuk sekedar sejenak merenung apa yang menjadi misi
kita. Saya sendiri・ akan selalu berusaha untuk `mengabdi dan
belajar', paling tidak dapat memberikan kontribusi positif bagi diri
dan kaluarga, serta orang-orang di sekitar saya.
Sumber: Mengabdi dan Belajar oleh Pitoyo Amrih

0 Comments:
Post a Comment
<< Home