Saturday, January 14, 2006

Obsesi Positif, Modal Kemajuan Bangsa
Oleh Edy Marwanta (Peminat masalah pengembangan komunitas)

Captain Tsubasa adalah judul sebuah komik Jepang tentang sepakbola yang muncul awal tahun 80-an. Animasi Captain Tsubasa ini pada tahun 1983-1986 ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi Jepang, bercerita tentang pemain sepakbola Jepang bernama Tsubasa yang ingin sekali dan berusaha keras menjadi pemain top internasional dan bermain di klub Eropa, hingga mencapai cita-citanya. Komik ini menjadi terkenal dan membuat soccer boom di Jepang. Nakata, pemain Jepang generasi awal yang menjadi pemain internasional dan bermain di klub Eropa, termasuk yang mendapat pengaruh dari komik ini.Tahun 70-80 an, kemampuan sepakbola Jepang mungkin jauh di bawah Indonesia. Namun sekarang Jepang merupakan juara Asia, menghasilkan pemain-pemain internasional, dan masuk 8 besar piala dunia yang lalu di Korea. Komik Captain Tsubasa ini diakui kontribusinya dan menjadi obsesi positif terhadap kemajuan sepakbola Jepang. Positive obsession Perilaku manusia banyak dibentuk oleh obsesinya. Baik perilaku positif atau perilaku negatif merupakan muara dari obsesi seseorang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini adalah obsesi jaman dahulu. Kasus kejahatan juga banyak dipengaruhi oleh obsesi negatif para pelaku. Mengambil pelajaran dari kemajuan sepakbola Jepang, nampak bahwa kemajuan bangsa-bangsa diilhami sebuah obsesi positif (positive obsession). Sebuah obsesi akan menjadi energi penggerak bangsa. Jepang dengan obsesinya membangun Asia Timur Raya membuatnya menjadi agresif, meskipun pada praksisnya menjadi sebuah penjajahan terhadap bangsa Asia yang lain pada jaman dahulu. Namun semangat Jepang untuk menjadi negara yang paling berpengaruh di Asia tetap menyala-nyala. Kemajuan Korea Selatan pun dijiwai oleh sebuah obsesi untuk mengungguli Jepang, apalagi ada ”dendam” sejarah karena penjajahan Jepang terhadap Korea. Malaysia, negeri jiran yang serumpun dengan kita, mampu bangkit dalam bidang ekonominya dengan bangkitnya obsesi orang Melayu yang selalu didengungkan oleh Mahathir Muhammad. Sedangkan Bangsa Indonesia saat ini terlihat kurang mempunyai obsesi positif yang kuat. Karenanya wajar kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak berkenan jika ada warga negara yang membanding-bandingkan dengan negara lain dan merendahkan bangsa sendiri. Untuk mengetahui obsesi sebuah masyarakat atau bangsa, dapat dilihat dari ekspresi masyarakat yang tergambar di media. Media kita masih banyak dihuni obsesi-obsesi seks dan materialisme. Media dan pendidikan harus diisi dengan obsesi-obsesi positif, bukan obsesi negatif seperti pornografi dan klenik. Berita-berita yang mempunyai obsesi positif kurang mendapat porsi yang banyak dari media massa. Misalnya prestasi pelajar yang mendapatkan medali dalam olimpiade keilmuan, semestinya ditindaklanjuti oleh media dengan memberitakan kehidupan mereka. Media TV pun jika menyuguhkan hiburan semestinya tontonan yang mempunyai obsesi positif seperti Captain Tsubasa, bukan animasi seperti Crayon Shinchan yang mengandung obsesi kenakalan berbau seksual. Struggle environmentHal kedua, setelah obsesi positif, yang diperlukan bangsa kita adalah atmosfer yang selalu mengingatkan perjuangan (struggle environment). Dalam kisah seorang penjahat yang telah membunuh 99 orang, ia menghadap seorang rahib namun dikatakan tidak ada pintu taubat dan akhirnya ia bunuh rahib tersebut hingga genap 100 orang. Kemudian ia menemui rahib kedua dan akhirnya mendapatkan nasihat jika ingin bertaubat hendaknya ia pergi ke sebuah kampung yang berisi orang-orang yang baik. Kisah ini memiliki hikmah akan pentingnya atmosfer hidup atau lingkungan tempat tinggal. Lagi-lagi pendidikan dan media mempunyai peran penting dalam hal membentuk atmosfer hidup ini. Pendidikan dalam pengertian luas, yaitu dari keluarga, masyarakat dan sekolah. Lingkungan yang mengingatkan nilai perjuangan juga dibentuk oleh keteladanan pemimpin. Jika pemimpin kita dapat menunjukkan kesederhaan dan keteladanan moral, ini akan memberikan resonansi kepada masyarakat bahwa bangsa kita sedang berjuang.Pejuang akan muncul karena obsesi positif dan lingkungan yang mengajarkan perjuangan. Sebagaimana dalam pendidikan anak, anak akan tumbuh positif jika menerima obsesi positif, penghargaan atas kelebihannya, kasih sayang, kepercayaan dan sebagainya. Membangkitkan obsesi positif Bangsa Indonesia Pada masa Majapahit ada obsesi berupa Sumpah Palapa yang dicanangkan oleh Gadjah Mada sehingga kerajaan Majapahit mengalami kebesaran, kekuasaanya meliputi Nusantara. Nah, bangsa kita saat ini memerlukan kembali sebuah obsesi positif yang menjadi pembicaraan publik hingga menjadi obsesi positif bangsa. Saatnya bangsa kita memulai obsesi untuk menjadi bangsa yang bermoral dan bermartabat dengan keseriusan memberantas korupsi, dan menjadi pemimpin di Asia Tenggara. Habibie pernah mencanangkan obsesi kebangkitan teknologi dirgantara Indonesia dan berhasil direalisasikannya (meskipun dalam perjalanannya kemudian surut), maka Bangsa Indonesia harus mencanangkan obsesi positif tentang kebangkitan Indonesia baru yang didukung oleh keteladanan pemimpin, kebersamaan masyarakat dan kecintaan pada Indonesia. Mulai dari diri sendiriSegala perbaikan dimulai dari diri sendiri. Pendidikan kita harus dapat membangunkan obsesi-obsesi positif bangsa dan konsep aktualisasi diri. Konsep aktualisasi diri ini ibarat pohon yang baik, yaitu pohon yang akarnya kokoh, dahannya tumbuh menjulang ke langit, dan berbuah di setiap musim. Pendidikan kita harus dibangun diatas pilar pengokohan moral sebagaimana pohon yang akarnya yang kokoh, pengembangan diri dan penguatan kompetensi sebagaimana dahan yang tumbuh menjulang ke langit, serta optimalisasi kontribusi sebagaimana pohon yang berbuah di setiap musim. Kontribusi ini menjadi puncak obsesi dan aktualisasi diri. Ada sebuah kalimat bijak,”Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain (paling banyak memberi kontribusi).”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Free Web Counter
pengunjung