Thursday, February 02, 2006

Introspeksi Diri

Instropeksi Diri
Oleh: DH. Al Yusni

Dhahak Ad Damiri seorang ulama termasyhur selain
sebagai pendidik masyarakat beliau juga dikenal
sebagai pengrajin kain. Untuk membiayai dakwahnya ia
ingin membekali sendiri. Sehingga beliau membuatkan
kain dengan hati-hati dan cermat agar kainnya bagus
dan bias diberikan harga yang tinggi. Maka ia pun
mengerjakannya dengan penuh ketelatenan.

Sesudah jadi kain tenunan yang beliau buat. Ia pun
bergegas pergi ke toko kain yang ternama di kotanya.
Toko tersebut dikenal barang-barang yang
diperjualbelikannya karena memang sangat bermutu.
Tentu harganyapun tinggi.

Sang Syaikh menuju toko kain tersebut berharap kainnya
dapat dibeli dengan harga yang tinggi. Karena menurut
beliau kain yang telah dibuatnya dengan penuh
kehati-hatian pasti bisa dihargakan mahal. Seperti
kain-kain yang biasa dijual di tempat tersebut.

"Saya ingin jual kain saya ini dengan harga 25
dirham," aju sang syaikh kepada pemilik toko kain itu
sambil menunjukkan kain buatannya.

"Coba saya lihat terlebih dahulu kain buatan syaikh,"
jawab pemilik toko seraya mencermati kain tenunan itu.

Setelah dicermati dengan seksama dan agak lama,
pemiliki toko itu kemudian menetapkan harganya.

"Ya... syaikh, saya cuma bisa beri harga untuk kain
anda sebesar 5 dirham saja," kata pemilik toko itu.

Mendengar kalimat itu Dhahak Ad Damiri meneteskan air
mata. Beliau
tampak menangis. Pemilik tokopun lantas melanjutkan
pernyataannya lagi untuk menenangkan sang syaikh yang
menangis.

"Kalau begitu saya naikkan 7 dirham, janganlah anda
menangis ya
syaikh. Itu harga yang amat pantas bagi kain buatanmu
setelah saya amati," kata pemilik toko menetapkan
harga kain itu.

Sang syaikh masih tetap menangis dengan deraian air
matanya yang tak kering.

"Sudahlah ya syaikh jangan menangis lagi, saya hanya
berani membeli kain anda dengan harga 8 dirham. Tidak
bisa lagi dinaikkan dari harga tersebut. Bila anda
ingin menerima harga itu saya akan membelinya. Bila
anda tidak bersedia dengan harga tersebut yah silahkan
anda ambil kembali", jawab pemilik toko menjelaskan
perihal harga kain tenunan buatan sang syaikh.

Dhahak Ad Damiri pun menjelaskan,

"Saya menangis bukan karena harga kain yang kau
tetapkan 8 dirham itu. Akan tetapi yang membuat saya
menangis adalah saya sudah merasa membuat kain itu
dengan sangat teliti dan cermat. Dan saya melihat
tidak ada celah kekurangan dan cacat dari itu. Akan
tetapi ketika di hadapan engkau orang yang paham
tentang kain ternyata kain saya engkau hargakan dengan
nilai tertingginya 8 dirham.
Padahal harga yang saya tawarkan 25 dirham."

"Lalu saya melihat pada amal ibadah yang telah saya
lakukan. Saya
merasa telah banyak amal ibadah saya. Namun bila
dinilai oleh Allah SWT, sangat mungkin ibadah yang
telah saya lakukan masih banyak kekurangannya. Mungkin
juga nilai ibadah saya diberi harga yang rendah," isak
sang syaikh.

Rupanya Dhahak Ad Damiri menangisi amal ibadahnya. Ia
merasa telah
banyak amalnya akan tetapi ketika dihadapan Allah SWT.
Mungkin ibadahnya tidak ada nilai yang berarti. Ia
sedang mengevaluasi dirinya yang merasa lebih ternyata
ia merasakan kekurangan ibadahnya setelah mendengar
harga kain tenun yang ia buat.

Kadang kita merasakan hal yang sama sehingga kita
menganggap bahwa
amal kita cukup bagi diri kita. Akan tetapi rupanya
amal kita belum apa-apa. Disinilah pentingnya kita
senantiasa mengevaluasi diri dan selalu merasa pada
diri ini bahwa kita masih lemah dan kita perlu
perbaikan.

"Evaluasilah dirimu sebelum dievaluasi."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Free Web Counter
pengunjung